Senin, 12 Agustus 2013

Aku Dan Peperanganku_cerpen


AKU DAN PEPERANGANKU
****
Yang terindah akan menjadi kenangan, yang terjadi akan segera berlalu dan yang  ada mungkin akan lenyap di telan masa. Bunyi bel kereta taqdir kini melonglong jauh melepas keheningan, melewati lembar kisah yang kini ku dalami. Aku, kamu, mereka dan semua orang mungkin larut terjatuh lalu terbangun dalam kisahnya sendiri. Dendra masih saja merangkai sisa mimpi dan harapan itu  dalam angan dan fikiran kosongnya,  seraya bertekuk dan membuka lembar kertas yang mulai di lihatnya dengan senyum ragu dan mengingat kembali masa-masa manis yang dulu di satukan hari di bawah pohon bringin dengan ayunan rapuh termakan rayap bergelantungan pada salah satu ranting-rantingnya. Kata-kata cinta yang sering terucap dari bibir manis sang kekasih kini tak lagi terdengar hanya dingin dan warna merah senja mengabarkan duka lara cinta yang teramat dalam.
Masih terngiang dalam fikirannya saat terakhir maria berbicara dan berjanji bahwa hari itu dia akan kembali menemuinya, di balik bukit yang bermahkotakan dedaunan hijau dan elok baris daun teh sebagai saksi bisu romantika kisah dendra dan shella.
“Shella cantikku, mungkin saja langit tersenyum karena gelap akan membawa bintangnya untuk dia, namun sungguh betapa bahagianya aku sebab bintangku telah bersamaku tanpa perantara apapun yang membawakannya untukku”
“mmmmhhh, aku tidak pernah memikirkan hal yang jauh lebih indah dari apa yang saat ini kita rasakan chayank” bibir manis shella mulai berbicara dan menatap tajam  mata ke kasihnya.
“Lihatlah... sepoi angin dan lambai rumput kini menyaksikan kita beradu rindu dan melabuhkan kemesraan di bawah teduh kasih nan cinta yang kita bangun, lalu akankah semua ini berlalu begitu saja, sedang nafas alam dan tarian pepohonan kini mengabarkan kisah kita pada seluruh sudut bukit dan panorama semesta yang luas” lanjut dendra saat dua lentik jemari itu saling mengepal dengan sangat eratnya.
“Den... dendra kasihku, jangan katakan apapun tentang semua itu, sungguh aku tak cukup kuat bila harus berdiri degan satu keperkasaan cinta sedang yang lain kau bawa pergi, aku tak kan sanggup dan tak akan pernah sanggup”  wajah yang memelas itu meyakinkan dendra yang ragu.
“aku tidak pernah ragu kepadamu shell, aku hanya ragu pada diriku sendiri, dengan keterbatasan dan kekuaranganku apa aku sanggup meyakinkanmu hingga selamanya kau akan bersamaku” dendra mulai mawas diri di hadapan anak pak lurah si bunga desa yang kini merebahkan kepalanya di paha dendra.
Maria terkejut dengan wajah menengadah menjawab pertanyaan dendra “ itukah pertanyaan pecundan yang sering mengalahkan dan menjatuhkan kesatria cinta? apakah kau akan jua kalah dan wafat terkubur perasaan mawasmu itu den? Apakah itu yang akan aku dapatkan saat aku sedemikian yakinnya akan kekuatan cinta kita? Apakah tidak ada yang lebih baik daripada mempermasalahakn hal yang memang seharusnya tak terjadi pada kita?Percayalah den, aku telah menerimamu sesempurna kau menerimaku dan mencintaiku.”
Mentari telah menenggelamkan diri, haripun telah menutup fijar cahayanya, awan-awan dan bukit-bukit pun kini berselimut merahnya. warna bela sungkawa yang di tenun sore dengan senja tatkala malam akan menyambut pekat dan gelap segelap hati dendra yang saat ini menahan duka lara serta kekecewaannya pada sehella yang tak kunjung datang.
Bukit arjas tempat dimana dendra dan shella mengikat janji 4 tahun yang lalu, sebelum akhirnya shella berpamitan untuk kuliah dan memberikan sepucuk surat itu pada dendra bahwa tanggal 25 mei 2011tepat di hari ulang tahun dendra dia akan datang menemuinya.
Sepasang mata itu kini meringis dan membentuk garis kesedihannya di pipi dendra dengan tangan gemetar dan detak jantung yang berpacu antara percaya dan tidak bahwa shella tak akan datang menemuinya, apa dia sudah lupa, apa dia sudah tidak lagi mencintaiku, atau kah dia tengah sibuk dengan kekasih barunya, aaacchh tidak, shella pasti datang dia akan datang dan akan memelukku dengan erat, mungkin saja dia berada di balik pohon dan rumput itu, dia sedang menuju kemari dengan senyum manisnya yang dulu pernah dia torehkan untukku, dendra mengelak dan pura-pura meredam kekhawatirannya, lalu memetik gitar yang sedari tadi di genggamnya dan menyanyikan lagu kenangan itu, lagu yang pernah di nyanyikan mereka berdua saat keduanya berjanji untuk terus bersama melawan aral menerjang arah dan tetap melewati seluruh lembar masa berdua sampai ujung waktu kehidupan meruncing dan berakhir pada muaranya sendiri.



Ingatlah kita pernah mencoba tuk melangkah
Meski lara mendera hidup ini
Kenanglah saat kita terjatuh dan tertatih
Agar kita mengerti perjalanan ini
Reff:
Kita tersenyum dalam luka menangis dalam tawa melewati semua
Tak akan pernah aku sesali semua yang terjadi terlukis di hati

Jangan lupakan saat hati pernah terluka
Hingga tak tentu arah kita berjalan
Ingatlah lagu ini saat hati merindu
Jadikan penguatmu saat kau rapuh.

Shella........
Kata itu terakhir di teriakkan dendra,dan bertanya yang entah dia tanyakan untuk siapa,
“Kenapa??? Kenapa kau tidak datang bukankah itu janjimu padaku? Kenapa kau lupa semua yang kita lewati? Disini kita pernah menangis dan tersenyum berdua?
“Shella, aku belum kalah, bukankah dulu kau yang bilang aku tidak boleh jadi pecundang, tapi sekarang kamu yang kalah, kamu yang mengakhiri ini dan kamu yang terkubur ego ayahmu dan hukum kemanusiaan, aku tidak percaya kau lakukan ini untukku shell” dendra merobek kertas itu dan bersandar pada ayunan yang kini talinya terputus.
Dengan gemericik air mata dendra kian pelan dan berulang kali mengucapkan kata itu.
“Kamu yang kalah shell, kamu yang kalah”
“tapi aku juga kalah dalam peperangan ini tanpa kamu, kini aku hanya dapat menaburkan air mataku dan sisa-sisa mimpi kita yang kini berbunga sebagai wujud bela sungkawaku pada kisah kita”













Karya Sang Putra Arjas
                                                                                                            Ady’s Gibrany_92

Tidak ada komentar:

Posting Komentar