****
Yang
terindah akan menjadi kenangan, yang terjadi akan segera berlalu dan yang ada mungkin akan lenyap di telan masa. Bunyi
bel kereta taqdir kini melonglong jauh melepas keheningan, melewati lembar
kisah yang kini ku dalami. Aku, kamu, mereka dan semua orang mungkin larut
terjatuh lalu terbangun dalam kisahnya sendiri. Dendra masih saja merangkai
sisa mimpi dan harapan itu dalam angan
dan fikiran kosongnya, seraya bertekuk
dan membuka lembar kertas yang mulai di lihatnya dengan senyum ragu dan
mengingat kembali masa-masa manis yang dulu di satukan hari di bawah pohon
bringin dengan ayunan rapuh termakan rayap bergelantungan pada salah satu
ranting-rantingnya. Kata-kata cinta yang sering terucap dari bibir manis sang
kekasih kini tak lagi terdengar hanya dingin dan warna merah senja mengabarkan
duka lara cinta yang teramat dalam.
Masih
terngiang dalam fikirannya saat terakhir maria berbicara dan berjanji bahwa
hari itu dia akan kembali menemuinya, di balik bukit yang bermahkotakan dedaunan
hijau dan elok baris daun teh sebagai saksi bisu romantika kisah dendra dan
shella.
“Shella
cantikku, mungkin saja langit tersenyum karena gelap akan membawa bintangnya
untuk dia, namun sungguh betapa bahagianya aku sebab bintangku telah bersamaku tanpa
perantara apapun yang membawakannya untukku”
“mmmmhhh,
aku tidak pernah memikirkan hal yang jauh lebih indah dari apa yang saat ini
kita rasakan chayank” bibir manis shella mulai berbicara dan menatap tajam mata ke kasihnya.
“Lihatlah...
sepoi angin dan lambai rumput kini menyaksikan kita beradu rindu dan melabuhkan
kemesraan di bawah teduh kasih nan cinta yang kita bangun, lalu akankah semua
ini berlalu begitu saja, sedang nafas alam dan tarian pepohonan kini
mengabarkan kisah kita pada seluruh sudut bukit dan panorama semesta yang luas”
lanjut dendra saat dua lentik jemari itu saling mengepal dengan sangat eratnya.
“Den...
dendra kasihku, jangan katakan apapun tentang semua itu, sungguh aku tak cukup
kuat bila harus berdiri degan satu keperkasaan cinta sedang yang lain kau bawa
pergi, aku tak kan sanggup dan tak akan pernah sanggup” wajah yang memelas itu meyakinkan dendra yang
ragu.
“aku
tidak pernah ragu kepadamu shell, aku hanya ragu pada diriku sendiri, dengan
keterbatasan dan kekuaranganku apa aku sanggup meyakinkanmu hingga selamanya
kau akan bersamaku” dendra mulai mawas diri di hadapan anak pak lurah si bunga
desa yang kini merebahkan kepalanya di paha dendra.
Maria
terkejut dengan wajah menengadah menjawab pertanyaan dendra “ itukah pertanyaan
pecundan yang sering mengalahkan dan menjatuhkan kesatria cinta? apakah kau
akan jua kalah dan wafat terkubur perasaan mawasmu itu den? Apakah itu yang
akan aku dapatkan saat aku sedemikian yakinnya akan kekuatan cinta kita? Apakah
tidak ada yang lebih baik daripada mempermasalahakn hal yang memang seharusnya
tak terjadi pada kita?Percayalah den, aku telah menerimamu sesempurna kau
menerimaku dan mencintaiku.”
Mentari
telah menenggelamkan diri, haripun telah menutup fijar cahayanya, awan-awan dan
bukit-bukit pun kini berselimut merahnya. warna bela sungkawa yang di tenun
sore dengan senja tatkala malam akan menyambut pekat dan gelap segelap hati
dendra yang saat ini menahan duka lara serta kekecewaannya pada sehella yang
tak kunjung datang.
Bukit
arjas tempat dimana dendra dan shella mengikat janji 4 tahun yang lalu, sebelum
akhirnya shella berpamitan untuk kuliah dan memberikan sepucuk surat itu pada dendra
bahwa tanggal 25 mei 2011tepat di hari ulang tahun dendra dia akan datang
menemuinya.
Sepasang
mata itu kini meringis dan membentuk garis kesedihannya di pipi dendra dengan
tangan gemetar dan detak jantung yang berpacu antara percaya dan tidak bahwa
shella tak akan datang menemuinya, apa dia sudah lupa, apa dia sudah tidak lagi
mencintaiku, atau kah dia tengah sibuk dengan kekasih barunya, aaacchh tidak,
shella pasti datang dia akan datang dan akan memelukku dengan erat, mungkin
saja dia berada di balik pohon dan rumput itu, dia sedang menuju kemari dengan
senyum manisnya yang dulu pernah dia torehkan untukku, dendra mengelak dan pura-pura
meredam kekhawatirannya, lalu memetik gitar yang sedari tadi di genggamnya dan
menyanyikan lagu kenangan itu, lagu yang pernah di nyanyikan mereka berdua saat
keduanya berjanji untuk terus bersama melawan aral menerjang arah dan tetap
melewati seluruh lembar masa berdua sampai ujung waktu kehidupan meruncing dan
berakhir pada muaranya sendiri.
Ingatlah kita pernah mencoba tuk melangkah
Meski lara
mendera hidup ini
Kenanglah saat
kita terjatuh dan tertatih
Agar kita
mengerti perjalanan ini
Reff:
Kita tersenyum
dalam luka menangis dalam tawa melewati semua
Tak akan pernah
aku sesali semua yang terjadi terlukis di hati
Jangan lupakan
saat hati pernah terluka
Hingga tak tentu
arah kita berjalan
Ingatlah lagu
ini saat hati merindu
Jadikan
penguatmu saat kau rapuh.
Shella........
Kata
itu terakhir di teriakkan dendra,dan bertanya yang entah dia tanyakan untuk
siapa,
“Kenapa???
Kenapa kau tidak datang bukankah itu janjimu padaku? Kenapa kau lupa semua yang
kita lewati? Disini kita pernah menangis dan tersenyum berdua?
“Shella,
aku belum kalah, bukankah dulu kau yang bilang aku tidak boleh jadi pecundang,
tapi sekarang kamu yang kalah, kamu yang mengakhiri ini dan kamu yang terkubur
ego ayahmu dan hukum kemanusiaan, aku tidak percaya kau lakukan ini untukku
shell” dendra merobek kertas itu dan bersandar pada ayunan yang kini talinya terputus.
Dengan
gemericik air mata dendra kian pelan dan berulang kali mengucapkan kata itu.
“Kamu
yang kalah shell, kamu yang kalah”
“tapi
aku juga kalah dalam peperangan ini tanpa kamu, kini aku hanya dapat menaburkan
air mataku dan sisa-sisa mimpi kita yang kini berbunga sebagai wujud bela
sungkawaku pada kisah kita”
Karya
Sang Putra Arjas
Ady’s
Gibrany_92